Serpih Mimpi yang Lebih Berarti
Oleh : Raditya Arief Putrasetiawan Dikala senja menyapa, semburat jingga menggeletik netra. Lantas raga berpelih kembali ke peraduan. Memeluk rumah dengan seribu cerita. Demikian senja menghiasi hari, jingga menyinari hati-hati lelah penuh pengharapan. Kendatipun, terkadang pengharapan bisa berujung duka Termenung paras bermuram dirja, menatap lembayung senja yang menggantung perkasa. Netra layu nan kosong, menyertai setiap detik penantiannya. Tak lagi berarti angan yang terpupuk sekian lama. Tidak lagi berguna eksistensinya yang terlampau hina. Gadis itu terpejam sesaat, membiarkan angin berdesir menyentuh indera perasa. Sedetik gadis itu tak mengubah posisi, hingga kemudian ia membuka mata beriringkan helaan napas. Sama seperti dulu, kelu ku berdiri tak mampu bergerak. Kedua mataku terpaku termenung, tak teralih pada sosoknya yang terdiam membisu. Ku ingin menghampiri, mengutarakan janji yang sempat kuukir dahulu. Bersama gadis itu, kuberharap dalam diamku. Namun kutahu ini...