Serpih Mimpi yang Lebih Berarti
Oleh : Raditya Arief Putrasetiawan
Dikala senja menyapa, semburat jingga menggeletik netra.
Lantas raga berpelih kembali ke peraduan. Memeluk rumah dengan seribu cerita.
Demikian senja menghiasi hari, jingga menyinari hati-hati lelah penuh
pengharapan. Kendatipun, terkadang pengharapan bisa berujung duka
Termenung paras bermuram dirja, menatap lembayung senja yang
menggantung perkasa. Netra layu nan kosong, menyertai setiap detik
penantiannya. Tak lagi berarti angan yang terpupuk sekian lama. Tidak lagi
berguna eksistensinya yang terlampau hina.
Gadis itu terpejam sesaat, membiarkan angin berdesir
menyentuh indera perasa. Sedetik gadis itu tak mengubah posisi, hingga kemudian
ia membuka mata beriringkan helaan napas.
Sama seperti dulu, kelu ku berdiri tak mampu bergerak. Kedua
mataku terpaku termenung, tak teralih pada sosoknya yang terdiam membisu. Ku
ingin menghampiri, mengutarakan janji yang sempat kuukir dahulu. Bersama gadis
itu, kuberharap dalam diamku.
Namun kutahu ini bukan hakku. Bagiku mustahil berangan
tinggi, dalam ribuan ketidak sempurnaan yang melengkapi diri. Mungkin aku bukan
lagi diriku, dan engkau bukan lagi dirimu. Bagiku kini semua telah berubah, dan
mungkin akan tetap begitu, selamanya.
Hati berdesir penuh duka, lantas rintik hujan mulai mengetuk
kulit bumi. Tak banyak, namun mampu membuka lembar kenangan. Tak harum, namun
dapat membawa serta semerbak harum memori. Dahulu, kala rinai hujan membelenggu
diri dalam angan dan mimpi. Dahulu, kala engkau bercerita padaku dengan penuh
penghayatan. Dahulu kita masih seumur jaggung, namun dengan nekatnya kita mengukir
mimpi di atas langit.
Ingatkah engkau? Kurasa tidak, lantaran itu sudah lama
sekali. Mungkin tidak terlalu lama bagi satuan waktu normal, namun kutahu kau
menunggu dalam penantian yang berselimutkan nestapa. Kapankah asa akan bermurah
hati lagi kepadamu, atau kapankah semburat senja dapat nampak lagi menghiasi
harimu.
Dahulu kau menyukai senja, kau pernah bilang senja
menyenangkan. Dahulu seluruh senja dapat terdefinisikan oleh goresan kuas pada
kanvas imajinasimu. Dengan apik kau selalu menyatu padukan warna hingga dapat
menghasilkan panorama menggugah serta selaras dan saling menyokong satu sama
lain.
Aku tentu hanya dapat menonton, terkadang aku mungkin iri
atas keluesan gerakan tanganmu membentuk senja yang kita berdua dambakan.
Kuingin juga mengapresiasikan keindahan senja, namun kubimbang, apa yang dapat
kuperbuat. Jika disandingkan, kau selalu unggul pada berbagai bidang. Bahkan,
teman-teman pun senang menertawakan bakat dan keterampilan kita yang tidak
simetris.
Mungkin perasaan iri telah menggelayuti hati. Dalam
pandanganku, hidupku tak ubah hanyalah seonggok titik kecil pada samudera luas,
terus meraih pesisir namun selalu berujung nihil. Pikiran senantiasa
bergentayangan, meneror batin yang masih dilanda krisis kepercayaan diri.
Namun satu yang kutahu pasti, tingginya mimpi tak memiliki
arti lagi. Kaum berdasi senantiasa memandang hina kami yang telah tenggelam
dalam kelas terbawah, bergumul dengan pahitnya kotoran dan lumpur beraromakan
busuk. Bukan kesalahan kami, kami hanya ditimpakan nasib yang kebetulan saja
tidak selaras dengan angan dan harap kami.
Keringnya angin laut menggeleitik indera perasa, lantas
mengusaikan pemikiran yang berderet memenuhi kepala. Aku berdiri, sembari
memandang gulungan ombak dengan khitmat. Kembali mengulas kembali tirai memori,
sesekali netraku masih menoleh memandang gadis yang duduk sendirian di atas
bebatuan.
Masih jelas terpatri pada ingatan kecilku, tentang pertemuan
pertama kita. Dikala wajah ini berlaku dingin dan ketus hanya karena kau
berasal dari keluarga berada. Sehingga air mata pun tak kuasa kau bendung,
membanjiri pipimu yang dahulu bulat.
Kita tak bertegur sapa setelahnya, membuat setitik rasa
bersalah hinggap pada pelupuk kalbu. Namun aku berusaha mengendahkan, dengan
santai kulanjutkan kembali rutinitasku.
Matahari menggantung tepat di puncak langit, tatkala aku
melajukan sepedaku berselimutkan peluh. Teman-temanku bersorak menyemangati,
dikala kayuh sepeda kami membawa serta jiwa-jiwa muda kami yang nakal. Kendati
kegiatan ini ditentang keras oleh ibu, jiwa mudaku tetap tertantang untuk melakukannya. Lantas,
kegiatan pencurian mangga tersebut terlaksana pada akhirnya, menjadi titik
balik hidup kami sebagai anak-anak yang hendak beranjak dewasa.
Lelah dan letih kami sambut dengan tawa, sembari membagi
rata mangga matang yang baru saja kami rampas. Seraya makan, bisik-bisik
terdengar penuh niat buruk.
Sementara mata mereka tepat mengarah pada sesosok bocah perempuan
yang tengah melukis, entah kenapa hatiku menjadi kurang nyaman. Kuutarakan
ketidak nyamananku begitu saja, lantas mendapat balasan tawa.
Kali pertama, aku berdiri mengatas namakan orang lain.
Teman-temanku memandangku hina, mencemoohku, merendahkanku. Namun tubuhku tak
gentar, lantas baku hantam pun terjadi, sementara bocah perempuan itu menangis
menyaksikannya.
Aku terkapar mengenaskan, sementara mereka melarikan diri.
Tak pelak, aku berusaha bangkit, sebelum kudengar bocah perempuan itu berteriak
memanggil seseorang. Tak lama, wanita paruh baya datang menghampiriku, segera
mengobati lukaku yang lumayan parah.
Terbuyar rasa sakitku, terhangatkan pada manisnya pertemuan.
Reysha, namaku dan engkau telah mengantung tinggi di cakrawala. Merana,
mengintegrasikan dirinya pada jutaan bintang pembawa kata sahabat.
Suara ombak dan bebatuan pantai menjadi saksi bisu, mimpi
kami utarakan dalam kelamnya malam. Mahkota kami bentuk dari lembaran daun kelapa.
Kuutarakan mimpi pada hari yang sunyi, menatap lurus penuh keteguhan.
Rinai hujan malam itu lantas mengusaikan segalanya.
Nampaknya awan dan sekutunya sudah bosan mendengar celotehan bocah kecil
tentang mimpi. Namun engkau terlihat sangat pucat, pandangmu yang kuat terpecah
menjadi serpihan rintihan. Kau mengigil hebat, sementara akal budiku terpecah
atas segala macam kemungkinan.
Ayahnya Reysha marah besar, makinya ia menyalahkanku.
Sementara satu kata pun tak kugunakan sebagai pengelak. Rasa bersalah sudah
terlanjur menggerogoti. Lantas dibuatnya garis merah tanda dilarang di sekitar
pantai dengan bibirnya, pertanda mutlak untuk kami menjauhi pantai.
Hinggir binggir berlalu menjauh, semakin sering engkau
bercerita. Melalui goresan cat pada ujung kuasmu, kau lukiskan senja dengan
cerita nestapa. Tentang seekor burung yang terjebak senja, menunggu malam
dengan harapan kosong. Sementara teman-temannya yang lain berlalu meninggalkan,
mengejar matahari yang tersenyum dengan sinar kuningnya.
Sedikit pun tidak mengerti pikirku pada ceritamu. Namun
engkau pun tidak ingin mengutarakan. Lantas, cerita tersebut semakin habis
dimakan waktu. Kulupakan begitu saja seiring kesibukan sekolah dimulai.
Kudapati engkau menjadi primadona baru, mudah kau menjadi
sorotan guru dengan bakatmu. Setitik iri kurasakan, lantas menumbuhkan
benih-benih konflik. Semakin lama semakin ketus diriku padamu, namun engkau
tidak berubah. Masih terpatri senyum pada bibir mungilmu.
Lama kelamaan, kerasnya hati dapat luluh. Menjadikan benih
baru muncul diantara kami, yang lantas membawa petaka baru. Putus serta rantai
yang sudah susah payah terikat. Diinjaknya hingga tak lagi berbentuk.
Diawali manakala matahari baru naik setengah meter. Pagi itu
tidak seperti biasa, bahkan kurasakan hembusan angin yang lebih kelam dari
hitamnya malam. Kau datang berselimutkan tangis, pertama kali setelah sekian
tahun. Aku tidak mengerti perkara apa yang tengah terjadi, namun mataku melotot
hebat tatkala engkau mengutarakan kepergianmu.
Kuingin utarakan mengapa, namun terputus sudah untaian kata
tatkala nada tinggi lelaki secara sepihak mempecundangiku. Menguliti keberanian
yang tersisa. Tangan besarnya membawa serta engkau yang masih terisak hebat.
Diutarakannya ketidak setaraan kelas sosial kami, bahwa kotoran sepertiku tak
pantas bersanding dengan indahnya mawar.
Serpihan hati mulai
kutata kembali, sementara kelamnya senja senantiasa mengikuti. Kepergianmu
membuatku mengingat kembali ceritamu, yang lantas membuat pikirku berspekulasi.
Beberapa lembar surat dikabarkan hinggap di kotak posku,
namun tak kunjung kubaca. Maafkan aku yang memilih tak peduli, namun ku tak
ingin membuatmu menentang orang tuamu sendiri hanya demi menjalin persahabatan
ini.
Setahun sudah surat tersebut menumpuk, bahkan beberapa kali
ibu memperingatkanku. Namun kularang siapapun untuk mengintip isinya, termasuk
pun aku yang masih memikirkan penolakan ayah Reysha.
Namun setelah sekian kali ku mencoba menolak, hatiku pun
akhirnya terketuk untuk membacanya. Dimana pikirku mendapat pencerahan,
mengenai seekor burung yang terjebak senja. Burung yang menunggu malam
kendatipun tidak ingin, burung yang ingin mengikuti teman-temannya kendatipun
tidak sanggup. Burung itu adalah Reysha.
Engkau yang terjebak pada ambang kematian yang menyiksa,
engkau yang ingin tetap memperlama kebersamaan kami, meski bagimu itu mustahil.
Engkau yang berkata bahwa kau menyukai senja, meski sejatinya kau membencinya.
Hatiku terkoyak menjadi ribuan serpihan, bahkan tidak tahu
menahu ku tentang perjuanganmu. Teman macam apa aku ini? Disaat aku bermimpi
tentang kejayaan, kekayaan, dan kekuasaan. Kulupa pada mimpimu yang sederhana,
namun lebih berharga daripada ini. Mimpi yang kecil, mimpi untuk melanjutkan
hidup.
Aku menarik napasku, sembari menatap sosokmu yang kini sudah
jauh berubah. Hatiku sudah kumantapkan untuk menghampirimu, mengutarakaan
penyesalanku atas semuanya. Ku tatap dirimu yang tengah khitmat menikmati ombak,
sementara bibirku memanggilmu dengan perlahan.
Kau menoleh perlahan, matamu memandangku seksama dengan
pandangan menilai. Lantas kau berdiri, menatapku dengan penuh tanda tanya...
Komentar
Posting Komentar