Cinta Abadi Dalam Belenggu Senja
Raditya
Arief Putrasetiawan
Sepasang netra cokelat tersebut
memandang langit, nampak perkasa meski tertutupi tebalnya awan. Sesekali
kulitnya merasakan sentuhan angin yang seolah tengah mencurahkan belaian
lembutnya, guna mengobati hati yang terbelenggu rindu.
Ah, rindu. Sekian lama
ia dihantui kata tersebut. Sebuah kata dengan lima huruf yang mudah diucapkan,
namun sukar dirasakan. Sebuah kata lima huruf yang setiap detiknya menorehkan
rasa sakit pada luka lamanya. Sebuah kata yang menuntunnya kembali pada masa
silam, dimana seluruhnya masih terasa masuk akal. Dimana bintang di langit
masih senantiasa dipercayai, untuk menggantung mimpi-mimpi yang rapuh. Sebelum
kenyataan menamparnya, bawasanya bintang di langit tidak berkenan menjaga
harapannya. Sebelum kenyataan menyadarkannya bahwa segalanya ada akhir, setiap
pertemuan pasti ada perpisahan.
Titik-titik air
mengalir lembut, menyentuh kulit sawo matangnya. Lantas memaksanya meneduh
sejenak, pada sebuah warung kopi kecil. Ia duduk memperhatikan langit yang
tengah menumpahkan air matanya, seolah ikut tertular rindu yang dirasanya.
Angannya menerawang
jauh, menembus ruang dan melibas waktu. Hatinya mengais-ngais kilas balik yang
seketika memenuhi kepalanya, berharap itu adalah kenyataan. Silih berganti
berseliweran memori-memori indah, yang dahulu memberikan kilauan indah pada
hidupnya. Lantas menjerit sukmanya, menuntut memori tersebut menyelimutinya
selamanya.
Seolah menertawakan
angannya, guntur menggelegar membelah angkasa, membuyarkan seketika ribuan
kilas balik yang memenuhi kepalanya. Kini hanya ada meja cokelat usang tempat
dirinya menumpu tangannya, menunggu langit untuk berhenti menangis.
Jarum panjang jam
telah berpindah empat puluh lima derajat dari posisinya saat ia pertama kali
menginjakan kakinya di warung kopi ini, namun langit belum juga menghentikan
tangisannya. Lantas senada dengan jam yang menunjukan pukul sebelas lewat lima
belas siang, seseorang datang memasuki warung kopi, nampak cantik berbingkaikan
surai hitam sebahu.
Sejenak, dirasanya
seolah ia kembali ke masa sebulan yang lalu. Seakan-akan wajah yang dahulu
memenuhi hatinya dengan cahaya dan tawa bangkit kembali dari kubur, menjadi
hadiah manis penawar kesepiannya. Dapat ia bayangkan suaranya yang lembut akan
berkata sembari tersenyum, “kamu malam ini pulang jam berapa?”
Namun sekali melihat
kedua matanya, ia yakin itu bukanlah sosok yang menyelimuti angannya. Matanya
terlalu gelap untuk menyamai sosoknya yang dahulu menemaninya, agak lumayan
mirip dengannya, jika ia boleh berpendapat. tubuhnya pun agak terlalu tinggi,
untuk disandingkan dengan sosoknya yang semasa kecil senantiassa menjadi
bulan-bbulanan di sekolahnya.
Namun tetap saja,
melihat wajah yang teramat mirip tersebut membuat tirai memori kembali
menyerang batok kepalanya. Seolah berbondong-bondong masuk kembali ke otak
setelah tadi sempat diusir oleh gelegarnya suara guntur, hendak memabukan
sukmanya yang masih tak merelakan kematiannya.
***
Orang bilang dua kutub
yang saling berlawanan akan saling tarik menarik, membentuk ikatan kuat yang
tak bisa diputus. Mungkin itulah yang ia pikir menjadi alasan terkuat ia dan
Zara dapat bertemu, terlepas dari kondisi sosial mereka yang saling bertolak
belakang.
Memang, sewaktu
dirinya masih setinggi pinggang ibunya, banyak sekali kata sifat yang melekat
pada dirinya dan keluarganya. Mulai dari miskin, aneh, lemah, bodoh, hingga
jelek telah ia dengar semuanya. Tentunya, bagi anak sepertinya kata tersebut
berarti seruan perang yang ia harus segera sahuti.
Maka tidak jarang
sorenya menjadi aksi tonjok-tonjokan hingga cakar-cakaran, diiringi sahutan
ejekan yang menggema kemana-mana. Jika tidak ada orang dewasa yang cukup peduli
untuk melerai, maka babak belur pun seringkali menjadi kongklusi peperangan
tersebut.
Tentunya
penderitaannya tidak sampai disitu, pulangnya ia pastinya akan dihadiahi
ceramah panjang lebar ibunya tentang mengendalikan emosi, sungguh membosankan.
Jika lukanya cukup parah, maka terkadang ceramah tersebut akan berakhir
tangisan dan isakan. Oh jangan lupakan larangan pergi keluar setelahnya, yang
harus dipatuhinya selama beberapa hari dengan jaminan ia tidak berkelahi lagi.
Tentu saja, hal tersebut seringkali berusaha diatasinya, baik dengan persuasi
maupun dengan melanggar terang-terangan.
Yah, rutinitas
tersebut ia pikir bisa ia terima. Yang tidak bisa ia terima adalah fakta
jikalau ada gadis baru yang mendiami tempat favoritnya. Sungguh, sebenarnya
gadis itu pikir ia siapa? Ia tak tahu berapa kali dia harus berkelahi mengusir
para penindas tersebut untuk dapat membuat tempat ini layak didiaminya untuk
membaca buku ceritanya?
Ah, bisa apa ia. Apa lagi gadis itu nampak bersih dan wangi,
ditemani pria tinggi berjas pula. Sungguh ia yang kumel ini bisa apa. Badan
pria itu tentunya tak mampu dilawannya, terlalu kekar dan menyembulkan aura
keperkasaan. Bahkan, ia saja yang bebal berkelahi dengan anak-anak sombong di
sekitar perumahannya tahu betul kapan peperangan tidak dapat dimenangi.
Akhirnya anak bocah
dengan netra cokelat tersebut pulang dengan perasaan gusar, mengutuk penyusup
yang telah mengambil alih dengan paksa tempat bermainnya. Menyibukan dirinya
yang bosan tersebut di kamar kecilnya, memainkan kembali pesawat-pesawat kertas
yang pagi tadi ia buat.
Dan tentu saja,
perasaannya masih gusar tatkala rumah kecilnya tersebut diketuk oleh orang yang
tak dikenal, diiringi dengan teriakan ibunya yang berkata, “Rudi, tolong
bukakan pintunya nak.”
Akhirnya dengan
desahan napas gusar, serta langkah yang ogah-ogahan, ia berjalan pelan menuju
pintu depannya. Sebuah langkah yang menyebalkan dan memberatkan baginya yang
masih kecil, kendatipun luas rumahnya sangatlah kecil.
Maka disitulah pertama
ia bertemu pandang secara resmi dengan gadis itu, tentu saja beserta pria kekar
tersebut menyertainya. Pastinya, otaknya yang masih terus saja memutar
kekesalannya bagaikan kaset rusak, membuat dirinya lantas dengan tidak sopannya
membanting pintu tepat di depan wajah gadis itu. Sungguh kesan pertama yang
teramat buruk, yang nantinya menjadi sumber tawa di kehidupan mereka kelak.
Beruntungnya ibu
datang dengan membawa serantang kue-kue dari arah dapur, serta merta sigap
mengambil alih tugasnya untuk membukakan pintu. Sementara bocah bernetra
cokelat tersebut hanya dapat berdiri
mematung, saat dua orang yang terlihat begitu rapih dan berada tersebut datang
memasuki rumah kecilnya dengan langkah hati-hati, sembari berkata dengan suara
yang lembut, “permisi bu, maaf merepotkan. Saya Pak Budi, baru pindah ke sini
dua hari yang lalu.”
Hanya dengan sederet
kalimat tersebut saja, maka dua orang yang semula tak kenal tersebut berakhir
sibuk sendiri bertukar berbagai cerita. Merasa dirinya tak lagi relevan dalam
diskusi antar orang dewasa tersebut, akhirnya Rudi secara cepat berusaha
melarikan diri, ingin kembali bermain di kamarnya. Namun, rupanya ibu memiliki
rencana lain untuknya.
Bibir Rudi mengerut,
namun tetap ia patuhi pintah ibu. Didapatinya lelaki itu tersenyum lembut,
sementara netranya mendapati sesosok tubuh bersembunyi malu-malu dibelakangnya.
Ibu menyentil pundak Rudi, sementara bibirnya terangkat penuh arti.
“Pak budi ini tetangga
baru kita,” ujar ibu kepada Rudi. “Kebetulan, dia akan pindah ke sini mulai
sekarang.” Ibu memutar kepala, kedua
matanya terpaku pada sosok bocah perempuan kecil yang bersembunyi tak jauh dari
keberadaan lelaki berpakaian rapi. “Anaknya pak Budi ini seumuran sama kamu
Di.”
Lelaki rapi tersebut,
yang sedikit diketahuinya namanya adalah Budi itu tersenyum lembut. “Iya, Zara
ini orangnya susah banget kalo disuruh bergaul. Di sekolah dia gak punya teman.
Saya Cuma pengen cari suasana baru aja kesini. Siapa tahu Zara bisa dapet
pengalaman baru.”
Lantas gelak tawa
terlontar dari bibir ibu dan lelaki tersebut, kemudian berlanjut percakapan
ringan antar tetangga yang baru saling mengenal. Rudi terpaku tanpa kata, masih
memerhatikan lelaki tersebut dan bocah perempuan itu secara bergantian. Sebelum
akhirnya, bocah perempuan itu mengangkat kakinya ragu, tersenyum malu-malu
kearah Rudi.
Rudi perhatikan gadis
tersebut menunduk, kedua tangannya terkepal erat. Setitik, didapatinya keringat
dingin mengucur pada dahi gadis tersebut. Hingga akhirnya gadis itu
mengumpulkan serpih-serpih keberaniannya,lantas mengangkat kepala, menatap Rudi
malu-malu dengan kedua bola matanya.
Sedetik setelah ia
membuka mulut, Rudi membuang muka sembari menjulurkan lidah. Mungkin lantaran
terbutakan rasa kesal, atau mungkin karena kenaifannya dahulu Rudi tak kuasa
berlaku baik selayaknya apa yang diharapkan ibunya.
Rudi yang masih bocah
tentu saja berpikir, hari itu terakhir kali ia bersosialisasi dengan gadis kaya
pengambil alih tempat bermainnya tersebut. Ia tak dapat menduga hal tersebut
merupakan awal dari kisahnya yang indah sekaligus menyedihkan.
Zara itu pendek, fakta
itu melekat jelas pada sosoknya yang tingginya hanya 118 cm di saat usianya
sudah 10 tahun. Di antara anak sekelasnya ia yang paling pendek, dan para
penindas Rudi yang dahulu hanya punya satu target, kini telah mempunyai target
lainnya. Mungkin itulah yang mendorong kedekatan mereka, hingga nantinya dapat
merajut kisah bersama.
Selain itu, ia
sangatlah pintar. Jika boleh diungkapkan dengan kata-kata, mungkin bisa
dibilang Rudi melawan penindasnya dengan tangan, namun Zara dengan otaknya.
Kedua hal itu, jika digabung, tentu saja akan membuat penindas mereka berpikir
dua kali jika ingin menindas mereka.
Maka, saat sekolah
dasarnya telah memasuki tahun terakhirnya, tidak ada lagi yang berani menindas
dirinya maupun Zara, di sekolah maupun di luar sekolah. Akhirnya, Rudi pun bisa
bernapas lega, dan tidak lagi sering pulang dengan babak belur.
***
“Terkadang, jika aku
mengingatnya kembali, ingin sekali kutertawa dengan keras.” Rudi mengusaikan
bagian awal ceritanya, pada perempuan bersurai hitam sebahu yang duduk di
depannya. Ia tak tahu sejak kapan ia membuka mulutnya untuk melontarkan kisah
masa lalunya pada seorang wanita yang sama sekali tidak ia kenal tersebut, yang
jelas setelah melakukannya entah mengapa ia merasa lebih baik.
“Aku yakin beliau juga
tengah mengingatnya di alam sana,” ujarnya lembut, penuh simpati. Netranya yang
nampak lebih gelap dibandingkan istrinya dahulu tersebut memancarkan kesedihan,
seolah mendengar cerita orang didepannya ini sungguh juga memberi beban
terhadap kalbunya.
“Ya, aku yakin,”
ujarnya kemudian, sembari mengangkat segelas kopi yang baru saja dipesannya.
“Andai saja aku bisa memutar waktu kembali.”
“Aku pikir beliau
tidak ingin kau bersedih terus begini,” ujarnya kemudian, sembari meminum
segelas susu yang ada di depan wajahnya.
“Kau benar, ia sungguh
wanita yang hebat, selalu ingin membuatku bahagia …” Rudi mulai mengeluarkan
air mata, terhanyut pada kenangan masa lalunya bersama sang istri. “Sudahkah
aku cerita padamu mengenai hari perpisahan kami?”
***
Dahulu mungkin ia tak
akan mengakuinya secara langsung, namun baginya Zara adalah sayap terpenting
yang menopang tubuhnya agar tetap bisa terbang dan tak terjatuh. Senyumannya
bagaikan kilauan cahaya yang memberinya kepastian dalam hidup yang terkadang
penuh dengan terowongan gelap yang begitu panjang.
Maka, sewaktu Zara
mengumumkan kabar bahwa keluarganya akan pergi meninggalkan kampungnya, Rudi
betul-betul merasa dirinya tengah digencet ribuan bata. Inginnya saat itu Zara
tetap disini, menemani harinya sembari bercerita dan bersandar pada sebatang
pohon. Maka saat hari mulai gelap, ia dan Zara akan terburu-buru pulang,
sebelum melampaui waktu main yang ditetapkan ibu.
Namun Rudi tahu, Zara
terlalu cerdas dan cemerlang untuk kampung ini. mimpinya terlampau tinggi untuk
dicapai bersama Rudi yang sayapnya tak terlalu kuat, dan jangkauannya terlalu
luas untuk terbatasi oleh atap-atap keterbatasan kampungnya.
Akhirnya, Rudi hanya
dapat mengucap selamat tinggal, sembari dalam hati menggumamkan harapan, untuk
suatu hari nanti dapat bertemu kembali.
Maka Zara pun
direngkuh ibu kota, bersama mobil sedan keluaran Jerman dan keluarganya yang
terlampau kaya. Sementara Rudi tetap di sini, hidup sederhana bersama
kampungnya.
Tapi tunggu, benarkah
nasibnya harus seperti ini? Mungkin saja, mungkin saja, masih ada harapan untuk
orang sepertinya. Masih ada harapan baginya yang selama ini tak terlalu pintar
agar bisa menyeimbanginya, untuk nanti dapat merantau ke ibu kota.
Maka studinya menjadi
fokus Rudi untuk tahun-tahun setelahnya. Buku bagaikan kawan setia yang tak
pernah meninggalkan sisinya. Perpustakaan adalah tempat wisata yang senantiasa
ia eksplorasi, dan guru-guru menjadi tempatnya mengutarakan ketidak
mengertiannya.
Maka Rudi bertarung
dengan waktu, untuk nanti dapat bersanding lagi dengan Zara kawan lamanya.
Untuk nanti dapat menemuinya di ibu kota, sebagai seseorang yang dapat
dibanggakannya.
Lantas, meski dengan
sayap yang lemah, ia berhasil terbang tinggi, menemui angannya merantau ke ibu
kota. Lantas senyum dikembangkannya setelahnya, dan asa pun dirajutnya untuk
dirinya dan Zara dapat bersanding kembali.
Namun, Rudi tetaplah
Rudi. Meski kini ia telah terbang dengan susah payah, baginya ia masihlah
rendah dan tak mampu menggapai Zara yang terlampau tinggi. Bagaimana kalau ia
telah berubah? Bagaimana jika mereka sudah terlampau berbeda untuk kembali
seperti dulu?
Akhirnya, ia pun tidak
jadi bertemu dengan Zara. Namun, tekad kecil muncul dalam hatinya. Jika nanti
ia telah memiliki penghasilan yang mampu dibanggakan, ia akan pastikan untuk menemui Zara.
Maka ia pun
menghabiskan waktunya di ibu kota berkutat dengan studinya, dengan asa tinggi
digenggamannya. Kendatipun dirasanya anak-anak ibu kota terlampau cerdas dan
sukar sekali diimbanginya, ia tetap berusaha bergerak.
Tentu saja, niatannya
tersebut tidaklah mudah. Maka di sinilah ia sekarang bersantai, menyeruput kopi
di sebuah warung kopi kecil. Menikmati udara senja yang sejuk, ditemani suara
kicauan burung yang sunyi. Menarik napas sejenak, dan berlari dari ambisinya
yang kian hari menggencet batinnya.
Namun di situlah ia
bertemu kembali dengannya. Gadis kecil yang kini telah dewasa. Memiliki rambut
hitam sebahu, dengan mata bulat sewarna karamel. Sungguh, beginikah takdir mempermainkannya?
Mempertemukannya dengan Zara sebelum dirinya menjadi seseorang yang mampu
dibanggakan.
Zara datang
menghampiri Rudi, duduk tenang memesan segelas susu hangat. Ditegurnya Rudi
dengan nada yang sama, penuh kelembutan namun juga penuh kewibawaan.
Maka dua sahabat lama
tersebut kembali bertukar cerita, melepas rindu setelah terpisah lama. Berbagi
tawa dan kilauan keceriaan, merajut asa di antara bintang-bintang.
Maka, warung kopi
sederhana tersebut bukan lagi sekedar tempatnya melepas lelah, namun tempat
berharga yang mempersatukan kembali dua insan yang kian lama berpisah. Hingga
tiba saatnya Rudi diwisuda, dan datanglah pekerjaan impian yang kini melengkapi
asanya.
Lantas lengkap sudah
asa Rudi kini, membuatnya dapat tersenyum bangga bersanding dengan Zara di
pelaminan. Menunggu saat-saat kedepan bersama, ditemani buah hati yang
lucu-lucu.
Tentunya tidak ada
yang bisa bermasalah di kehidupan Rudi ini. Seluruhnya telah diperolehnya.
Pekerjaan, harta, dan Zara cinta sejatinya. Seharusnya, ini akan berakhir
bahagia selamanya, seperti dongeng-dongeng yang dahulu sering dibacakan ibunya.
Seharusnya begitu, kan?
Sayangnya, takdir
menitahkan hal lain untuknya. 21 Maret 2001, Rudi kehilangan sayapnya,
kehilangan kilauan indah yang memenuhi hari-harinya. Ia kehilangan Zara untuk
selamanya.
Pagi itu seharusnya ia
bisa sadar, tatkala Zara nampak begitu murung, begitu terjebak dalam
pikirannya. Selera makannya tak terlalu besar, dan titik-titik air mata seolah
tak kuat lagi dibendung.
“Kamu kelihatan murung
banget pagi ini, kenapa?” Rudi berujar, ditengah-tengah makannya. Sementara
anak mereka yang masih duduk di taman kanak-kanak menoleh, matanya yang bundar
memperhatikan wajah ibunya dengan pandangan menilai.
“Aku mau pulang,” Zara
berujar, terdengar sendu. Ia menaruh selai pada rotinya dengan lesu, sementara
mulai duduk di samping putrinya. “Tapi aku khawatir banget … aku khawatir …”
“Mau pulang? Ke mana?
Ke kampung?” Rudi berujar santai, sembari menggigit roti selai cokelatnya.
“Boleh, tinggal kamu bilang aja mau kapan.”
“Enggak, aku mau
pulang, pulang ke rumah.” Zara berujar, setelah selesai mengunyah potongan
rotinya.
Rudi hanya dapat
mengangkat alisnya curiga, lantas mulai menanyakan maksud istrinya tersebut.
Namun Zara tak menjawab, lantas ia segera beranjak, bersiap pergi mengantar
putrinya.
Setelahnya, kata
tersebut senantiasa menyelimuti benaknya. Ia sungguh tak fokus dalam
pekerjaannya hari itu, pikirannya hanya tertuju pada satu tempat.
Lantaran pikirannya
tak dapat dikompromi lagi, Rudi pun mohon izin pulang lebih cepat pada
atasannya, segera melajukan mobilnya menuju tempat Zara mengajar. Jantungnya
bertalu-talu cepat, sementara pikirnya diterjang kecemasan bertubi-tubi.
Tiba-tiba ponsel Nokia
miliknya berdering nyaring, membuyarkan konsentrasinya menyetir. Lantas dengan
gusar ia segera menepi, lantas
mengangkat panggilan tersebut.
“Kamu dimana?” Suara
Zara terdengar dari balik telepon, seketika membuat kelegaan menyelimuti
batinnya.
“Aku baru pulang dari
kantor nih, emangnya kenapa?” Ia menjawab, kentara betul nada lega dalam
suaranya.
“Kalau gitu kamu bisa
tolong jemput Nurul gak? Aku kayaknya gak bisa jemput hari ini deh.” Ujarnya
tiba-tiba, membuatnya seketika mengangkat alis.
“Oh oke deh. Kamu
emangnya ada apa?” Tanyanya kemudian, penuh rasa penasaran. Tidak biasanya Zara
memintanya untuk menjemput putri mereka. Namun, tak ada jawaban dari seberang
ponsel, menandakan Zara yang telah menutup ponselnya.
Mungkin ia
sedang ada urusan mendadak, pikirnya
kemudian, sembari segera melaju menuju sekolah putrinya.
Namun, dugaannya
tersebut segera dipatahkan ketika sebuah nomor menelponnya. Sebuah nomor yang
mengobarkan kabar duka, laksana suara gendang yang menyayut hatinya. Sebuah
nomor yang seketika membuat seluruh tubuhnya kaku tak bergerak, lantaran
terlalu kaget menerimanya.
“Dimana istri saya
sekarang?” Tanyanya kemudian pada polisi yang mengabarkan kecelakaan yang
menimpa Zara tersebut, berselimutkan nada amarah dan kesedihan. Lantas polisi
segera melontarkan jawabannya, membuat Rudi tergoda untuk segera ke sana dan
menemui istrinya untuk terakhir kalinya. Namun sebuah telpon lagi-lagi
membangunkannya, sebuah suara terakhir dari sang istri yang harus dipatuhinya.
Membuatnya tersadar, bahwa disamping dirinya, akan ada seseorang yang jauh lebih
terluka kehilangan Zara. Seseorang yang hanya bisa lima tahun memeluk orang
yang melahirkannya ke dunia, sebelum takdir mengembalikannya ke tempat
peristirahatan terakhirnya.
Lantas tatkala kakinya
berdiri di tempat penuh keceriaan tersebut, tempat tawa bergema dimana-mana,
tanpa masalah orang dewasa, tanpa ternodai dengan kejamnya dunia, Rudi mematung
tak dapat berbicara. Ia hanya dapat terkaku tatkala tubuh kecil memeluknya,
berkata dengan ceria, “hai, papa, coba tebak tadi aku abis ngapain di sekolah?”
Lantas ia hanya dapat
melingkarkan tangannya di punggung gadis kecil peninggalan terakhir istrinya,
begitu ceria tanpa tahu nasib buruk yang telah menimpa ibunya. Tanpa tahu esok
ia tak dapat berkata dengan ceria lagi, “selamat pagi, mama? Hari ini masak apa?
mau Nurul bantuin gak?”
Tapi di dalam
kesedihan itu, setidaknya satu hal yang ia miliki. Tubuh mungil tersebut harus
ia pastikan tumbuh sebagaimana mestinya, hingga nanti Zara akan bangga jika
bertemu dengannya kelak di alam sana.
***
Gadis bersuraikan
hitam sebahu tersebut mendengarkan cerita pria di depannya dengan khitmat,
hingga batu kesedihan pun ikut-ikutan menggencet hatinya.
“Aku yakin, beliau
akan senang melihat hasil didikanmu.” Ujarnya kemudian, sembari menyika wajah
yang berselimutkan titik-titik air mata. “Aku yakin ia akan tumbuh menjadi
orang yang baik, sesuai didikanmu yang begitu hebat.”
“Ya, kuharap begitu.”
Pria itu menarik napas, sembari menyeruput kembali segelas kopi yang sudah
mulai mendingin. “Kuharap istriku ada di sini untuk menemaniku. Kuharap,
istriku dapat melihat betapa menggemaskannya ia.”
“Aku yakin beliau akan
senang dengan semua yang telah kau lakukan.” Ujar gadis itu, matanya menatap
pria tersebut dengan tatapan sayu.
Pria itu kemudian
menyaksikan jam dinding yang bertengger indah di sebelah kiri toko, yang kini
telah menunjukan pukul dua belas siang. “Sepertinya waktuku bercerita sudah
habis, ya? Sebentar lagi putriku akan pulang.”
Jarum-jarum tajam
seketika menusuk dada gadis tersebut, sementara air matanya tak kuasa lagi
dibendungnya. Ditatapnya pria yang telah berusia lanjut tersebut dengan tatapan
nanar, hatinya begitu sakit tatkala mengetahui usia tua yang sedikit demi
sedikit telah merengut ingatan pahlawan yang sedari awal merupakan cahayanya,
menuntunnya hingga kini memperoleh kesuksesan. Nurul menyeka air matanya dengan
tangannya, lantas dengan lirih ia kemudian berkata, “aku yakin mama akan sangat bangga padamu,
papa.”
Komentar
Posting Komentar