Cinta Abadi Dalam Belenggu Senja

Raditya Arief Putrasetiawan 

Sepasang netra cokelat tersebut memandang langit, nampak perkasa meski tertutupi tebalnya awan. Sesekali kulitnya merasakan sentuhan angin yang seolah tengah mencurahkan belaian lembutnya, guna mengobati hati yang terbelenggu rindu.

Ah, rindu. Sekian lama ia dihantui kata tersebut. Sebuah kata dengan lima huruf yang mudah diucapkan, namun sukar dirasakan. Sebuah kata lima huruf yang setiap detiknya menorehkan rasa sakit pada luka lamanya. Sebuah kata yang menuntunnya kembali pada masa silam, dimana seluruhnya masih terasa masuk akal. Dimana bintang di langit masih senantiasa dipercayai, untuk menggantung mimpi-mimpi yang rapuh. Sebelum kenyataan menamparnya, bawasanya bintang di langit tidak berkenan menjaga harapannya. Sebelum kenyataan menyadarkannya bahwa segalanya ada akhir, setiap pertemuan pasti ada perpisahan.

Titik-titik air mengalir lembut, menyentuh kulit sawo matangnya. Lantas memaksanya meneduh sejenak, pada sebuah warung kopi kecil. Ia duduk memperhatikan langit yang tengah menumpahkan air matanya, seolah ikut tertular rindu yang dirasanya.

Angannya menerawang jauh, menembus ruang dan melibas waktu. Hatinya mengais-ngais kilas balik yang seketika memenuhi kepalanya, berharap itu adalah kenyataan. Silih berganti berseliweran memori-memori indah, yang dahulu memberikan kilauan indah pada hidupnya. Lantas menjerit sukmanya, menuntut memori tersebut menyelimutinya selamanya.

Seolah menertawakan angannya, guntur menggelegar membelah angkasa, membuyarkan seketika ribuan kilas balik yang memenuhi kepalanya. Kini hanya ada meja cokelat usang tempat dirinya menumpu tangannya, menunggu langit untuk berhenti menangis.

Jarum panjang jam telah berpindah empat puluh lima derajat dari posisinya saat ia pertama kali menginjakan kakinya di warung kopi ini, namun langit belum juga menghentikan tangisannya. Lantas senada dengan jam yang menunjukan pukul sebelas lewat lima belas siang, seseorang datang memasuki warung kopi, nampak cantik berbingkaikan surai hitam sebahu.

Sejenak, dirasanya seolah ia kembali ke masa sebulan yang lalu. Seakan-akan wajah yang dahulu memenuhi hatinya dengan cahaya dan tawa bangkit kembali dari kubur, menjadi hadiah manis penawar kesepiannya. Dapat ia bayangkan suaranya yang lembut akan berkata sembari tersenyum, “kamu malam ini pulang jam berapa?”

Namun sekali melihat kedua matanya, ia yakin itu bukanlah sosok yang menyelimuti angannya. Matanya terlalu gelap untuk menyamai sosoknya yang dahulu menemaninya, agak lumayan mirip dengannya, jika ia boleh berpendapat. tubuhnya pun agak terlalu tinggi, untuk disandingkan dengan sosoknya yang semasa kecil senantiassa menjadi bulan-bbulanan di sekolahnya.

Namun tetap saja, melihat wajah yang teramat mirip tersebut membuat tirai memori kembali menyerang batok kepalanya. Seolah berbondong-bondong masuk kembali ke otak setelah tadi sempat diusir oleh gelegarnya suara guntur, hendak memabukan sukmanya yang masih tak merelakan kematiannya.

***

Orang bilang dua kutub yang saling berlawanan akan saling tarik menarik, membentuk ikatan kuat yang tak bisa diputus. Mungkin itulah yang ia pikir menjadi alasan terkuat ia dan Zara dapat bertemu, terlepas dari kondisi sosial mereka yang saling bertolak belakang.

Memang, sewaktu dirinya masih setinggi pinggang ibunya, banyak sekali kata sifat yang melekat pada dirinya dan keluarganya. Mulai dari miskin, aneh, lemah, bodoh, hingga jelek telah ia dengar semuanya. Tentunya, bagi anak sepertinya kata tersebut berarti seruan perang yang ia harus segera sahuti.

Maka tidak jarang sorenya menjadi aksi tonjok-tonjokan hingga cakar-cakaran, diiringi sahutan ejekan yang menggema kemana-mana. Jika tidak ada orang dewasa yang cukup peduli untuk melerai, maka babak belur pun seringkali menjadi kongklusi peperangan tersebut.

Tentunya penderitaannya tidak sampai disitu, pulangnya ia pastinya akan dihadiahi ceramah panjang lebar ibunya tentang mengendalikan emosi, sungguh membosankan. Jika lukanya cukup parah, maka terkadang ceramah tersebut akan berakhir tangisan dan isakan. Oh jangan lupakan larangan pergi keluar setelahnya, yang harus dipatuhinya selama beberapa hari dengan jaminan ia tidak berkelahi lagi. Tentu saja, hal tersebut seringkali berusaha diatasinya, baik dengan persuasi maupun dengan melanggar terang-terangan.

Yah, rutinitas tersebut ia pikir bisa ia terima. Yang tidak bisa ia terima adalah fakta jikalau ada gadis baru yang mendiami tempat favoritnya. Sungguh, sebenarnya gadis itu pikir ia siapa? Ia tak tahu berapa kali dia harus berkelahi mengusir para penindas tersebut untuk dapat membuat tempat ini layak didiaminya untuk membaca buku ceritanya?

Ah, bisa apa ia.  Apa lagi gadis itu nampak bersih dan wangi, ditemani pria tinggi berjas pula. Sungguh ia yang kumel ini bisa apa. Badan pria itu tentunya tak mampu dilawannya, terlalu kekar dan menyembulkan aura keperkasaan. Bahkan, ia saja yang bebal berkelahi dengan anak-anak sombong di sekitar perumahannya tahu betul kapan peperangan tidak dapat dimenangi.

Akhirnya anak bocah dengan netra cokelat tersebut pulang dengan perasaan gusar, mengutuk penyusup yang telah mengambil alih dengan paksa tempat bermainnya. Menyibukan dirinya yang bosan tersebut di kamar kecilnya, memainkan kembali pesawat-pesawat kertas yang pagi tadi ia buat.

Dan tentu saja, perasaannya masih gusar tatkala rumah kecilnya tersebut diketuk oleh orang yang tak dikenal, diiringi dengan teriakan ibunya yang berkata, “Rudi, tolong bukakan pintunya nak.”

Akhirnya dengan desahan napas gusar, serta langkah yang ogah-ogahan, ia berjalan pelan menuju pintu depannya. Sebuah langkah yang menyebalkan dan memberatkan baginya yang masih kecil, kendatipun luas rumahnya sangatlah kecil.

Maka disitulah pertama ia bertemu pandang secara resmi dengan gadis itu, tentu saja beserta pria kekar tersebut menyertainya. Pastinya, otaknya yang masih terus saja memutar kekesalannya bagaikan kaset rusak, membuat dirinya lantas dengan tidak sopannya membanting pintu tepat di depan wajah gadis itu. Sungguh kesan pertama yang teramat buruk, yang nantinya menjadi sumber tawa di kehidupan mereka kelak.

Beruntungnya ibu datang dengan membawa serantang kue-kue dari arah dapur, serta merta sigap mengambil alih tugasnya untuk membukakan pintu. Sementara bocah bernetra cokelat  tersebut hanya dapat berdiri mematung, saat dua orang yang terlihat begitu rapih dan berada tersebut datang memasuki rumah kecilnya dengan langkah hati-hati, sembari berkata dengan suara yang lembut, “permisi bu, maaf merepotkan. Saya Pak Budi, baru pindah ke sini dua hari yang lalu.”

Hanya dengan sederet kalimat tersebut saja, maka dua orang yang semula tak kenal tersebut berakhir sibuk sendiri bertukar berbagai cerita. Merasa dirinya tak lagi relevan dalam diskusi antar orang dewasa tersebut, akhirnya Rudi secara cepat berusaha melarikan diri, ingin kembali bermain di kamarnya. Namun, rupanya ibu memiliki rencana lain untuknya.

Bibir Rudi mengerut, namun tetap ia patuhi pintah ibu. Didapatinya lelaki itu tersenyum lembut, sementara netranya mendapati sesosok tubuh bersembunyi malu-malu dibelakangnya. Ibu menyentil pundak Rudi, sementara bibirnya terangkat penuh arti.

“Pak budi ini tetangga baru kita,” ujar ibu kepada Rudi. “Kebetulan, dia akan pindah ke sini mulai sekarang.” Ibu memutar kepala,  kedua matanya terpaku pada sosok bocah perempuan kecil yang bersembunyi tak jauh dari keberadaan lelaki berpakaian rapi. “Anaknya pak Budi ini seumuran sama kamu Di.”

Lelaki rapi tersebut, yang sedikit diketahuinya namanya adalah Budi itu tersenyum lembut. “Iya, Zara ini orangnya susah banget kalo disuruh bergaul. Di sekolah dia gak punya teman. Saya Cuma pengen cari suasana baru aja kesini. Siapa tahu Zara bisa dapet pengalaman baru.”

Lantas gelak tawa terlontar dari bibir ibu dan lelaki tersebut, kemudian berlanjut percakapan ringan antar tetangga yang baru saling mengenal. Rudi terpaku tanpa kata, masih memerhatikan lelaki tersebut dan bocah perempuan itu secara bergantian. Sebelum akhirnya, bocah perempuan itu mengangkat kakinya ragu, tersenyum malu-malu kearah Rudi.

Rudi perhatikan gadis tersebut menunduk, kedua tangannya terkepal erat. Setitik, didapatinya keringat dingin mengucur pada dahi gadis tersebut. Hingga akhirnya gadis itu mengumpulkan serpih-serpih keberaniannya,lantas mengangkat kepala, menatap Rudi malu-malu dengan kedua bola matanya.

Sedetik setelah ia membuka mulut, Rudi membuang muka sembari menjulurkan lidah. Mungkin lantaran terbutakan rasa kesal, atau mungkin karena kenaifannya dahulu Rudi tak kuasa berlaku baik selayaknya apa yang diharapkan ibunya.

Rudi yang masih bocah tentu saja berpikir, hari itu terakhir kali ia bersosialisasi dengan gadis kaya pengambil alih tempat bermainnya tersebut. Ia tak dapat menduga hal tersebut merupakan awal dari kisahnya yang indah sekaligus menyedihkan.

Zara itu pendek, fakta itu melekat jelas pada sosoknya yang tingginya hanya 118 cm di saat usianya sudah 10 tahun. Di antara anak sekelasnya ia yang paling pendek, dan para penindas Rudi yang dahulu hanya punya satu target, kini telah mempunyai target lainnya. Mungkin itulah yang mendorong kedekatan mereka, hingga nantinya dapat merajut kisah bersama.

Selain itu, ia sangatlah pintar. Jika boleh diungkapkan dengan kata-kata, mungkin bisa dibilang Rudi melawan penindasnya dengan tangan, namun Zara dengan otaknya. Kedua hal itu, jika digabung, tentu saja akan membuat penindas mereka berpikir dua kali jika ingin menindas mereka.

Maka, saat sekolah dasarnya telah memasuki tahun terakhirnya, tidak ada lagi yang berani menindas dirinya maupun Zara, di sekolah maupun di luar sekolah. Akhirnya, Rudi pun bisa bernapas lega, dan tidak lagi sering pulang dengan babak belur.

***

“Terkadang, jika aku mengingatnya kembali, ingin sekali kutertawa dengan keras.” Rudi mengusaikan bagian awal ceritanya, pada perempuan bersurai hitam sebahu yang duduk di depannya. Ia tak tahu sejak kapan ia membuka mulutnya untuk melontarkan kisah masa lalunya pada seorang wanita yang sama sekali tidak ia kenal tersebut, yang jelas setelah melakukannya entah mengapa ia merasa lebih baik.

“Aku yakin beliau juga tengah mengingatnya di alam sana,” ujarnya lembut, penuh simpati. Netranya yang nampak lebih gelap dibandingkan istrinya dahulu tersebut memancarkan kesedihan, seolah mendengar cerita orang didepannya ini sungguh juga memberi beban terhadap kalbunya.

“Ya, aku yakin,” ujarnya kemudian, sembari mengangkat segelas kopi yang baru saja dipesannya. “Andai saja aku bisa memutar waktu kembali.”

“Aku pikir beliau tidak ingin kau bersedih terus begini,” ujarnya kemudian, sembari meminum segelas susu yang ada di depan wajahnya.

“Kau benar, ia sungguh wanita yang hebat, selalu ingin membuatku bahagia …” Rudi mulai mengeluarkan air mata, terhanyut pada kenangan masa lalunya bersama sang istri. “Sudahkah aku cerita padamu mengenai hari perpisahan kami?”

***

Dahulu mungkin ia tak akan mengakuinya secara langsung, namun baginya Zara adalah sayap terpenting yang menopang tubuhnya agar tetap bisa terbang dan tak terjatuh. Senyumannya bagaikan kilauan cahaya yang memberinya kepastian dalam hidup yang terkadang penuh dengan terowongan gelap yang begitu panjang.

Maka, sewaktu Zara mengumumkan kabar bahwa keluarganya akan pergi meninggalkan kampungnya, Rudi betul-betul merasa dirinya tengah digencet ribuan bata. Inginnya saat itu Zara tetap disini, menemani harinya sembari bercerita dan bersandar pada sebatang pohon. Maka saat hari mulai gelap, ia dan Zara akan terburu-buru pulang, sebelum melampaui waktu main yang ditetapkan ibu.

Namun Rudi tahu, Zara terlalu cerdas dan cemerlang untuk kampung ini. mimpinya terlampau tinggi untuk dicapai bersama Rudi yang sayapnya tak terlalu kuat, dan jangkauannya terlalu luas untuk terbatasi oleh atap-atap keterbatasan kampungnya.

Akhirnya, Rudi hanya dapat mengucap selamat tinggal, sembari dalam hati menggumamkan harapan, untuk suatu hari nanti dapat bertemu kembali.

Maka Zara pun direngkuh ibu kota, bersama mobil sedan keluaran Jerman dan keluarganya yang terlampau kaya. Sementara Rudi tetap di sini, hidup sederhana bersama kampungnya.

Tapi tunggu, benarkah nasibnya harus seperti ini? Mungkin saja, mungkin saja, masih ada harapan untuk orang sepertinya. Masih ada harapan baginya yang selama ini tak terlalu pintar agar bisa menyeimbanginya, untuk nanti dapat merantau ke ibu kota.

Maka studinya menjadi fokus Rudi untuk tahun-tahun setelahnya. Buku bagaikan kawan setia yang tak pernah meninggalkan sisinya. Perpustakaan adalah tempat wisata yang senantiasa ia eksplorasi, dan guru-guru menjadi tempatnya mengutarakan ketidak mengertiannya.

Maka Rudi bertarung dengan waktu, untuk nanti dapat bersanding lagi dengan Zara kawan lamanya. Untuk nanti dapat menemuinya di ibu kota, sebagai seseorang yang dapat dibanggakannya.

Lantas, meski dengan sayap yang lemah, ia berhasil terbang tinggi, menemui angannya merantau ke ibu kota. Lantas senyum dikembangkannya setelahnya, dan asa pun dirajutnya untuk dirinya dan Zara dapat bersanding kembali.

Namun, Rudi tetaplah Rudi. Meski kini ia telah terbang dengan susah payah, baginya ia masihlah rendah dan tak mampu menggapai Zara yang terlampau tinggi. Bagaimana kalau ia telah berubah? Bagaimana jika mereka sudah terlampau berbeda untuk kembali seperti dulu?

Akhirnya, ia pun tidak jadi bertemu dengan Zara. Namun, tekad kecil muncul dalam hatinya. Jika nanti ia telah memiliki penghasilan yang mampu dibanggakan, ia akan pastikan  untuk menemui Zara.

Maka ia pun menghabiskan waktunya di ibu kota berkutat dengan studinya, dengan asa tinggi digenggamannya. Kendatipun dirasanya anak-anak ibu kota terlampau cerdas dan sukar sekali diimbanginya, ia tetap berusaha bergerak.

Tentu saja, niatannya tersebut tidaklah mudah. Maka di sinilah ia sekarang bersantai, menyeruput kopi di sebuah warung kopi kecil. Menikmati udara senja yang sejuk, ditemani suara kicauan burung yang sunyi. Menarik napas sejenak, dan berlari dari ambisinya yang kian hari menggencet batinnya.

Namun di situlah ia bertemu kembali dengannya. Gadis kecil yang kini telah dewasa. Memiliki rambut hitam sebahu, dengan mata bulat sewarna karamel. Sungguh, beginikah takdir mempermainkannya? Mempertemukannya dengan Zara sebelum dirinya menjadi seseorang yang mampu dibanggakan.

Zara datang menghampiri Rudi, duduk tenang memesan segelas susu hangat. Ditegurnya Rudi dengan nada yang sama, penuh kelembutan namun juga penuh kewibawaan.

Maka dua sahabat lama tersebut kembali bertukar cerita, melepas rindu setelah terpisah lama. Berbagi tawa dan kilauan keceriaan, merajut asa di antara bintang-bintang.

Maka, warung kopi sederhana tersebut bukan lagi sekedar tempatnya melepas lelah, namun tempat berharga yang mempersatukan kembali dua insan yang kian lama berpisah. Hingga tiba saatnya Rudi diwisuda, dan datanglah pekerjaan impian yang kini melengkapi asanya.

Lantas lengkap sudah asa Rudi kini, membuatnya dapat tersenyum bangga bersanding dengan Zara di pelaminan. Menunggu saat-saat kedepan bersama, ditemani buah hati yang lucu-lucu.

Tentunya tidak ada yang bisa bermasalah di kehidupan Rudi ini. Seluruhnya telah diperolehnya. Pekerjaan, harta, dan Zara cinta sejatinya. Seharusnya, ini akan berakhir bahagia selamanya, seperti dongeng-dongeng yang dahulu sering dibacakan ibunya. Seharusnya begitu, kan?

Sayangnya, takdir menitahkan hal lain untuknya. 21 Maret 2001, Rudi kehilangan sayapnya, kehilangan kilauan indah yang memenuhi hari-harinya. Ia kehilangan Zara untuk selamanya.

Pagi itu seharusnya ia bisa sadar, tatkala Zara nampak begitu murung, begitu terjebak dalam pikirannya. Selera makannya tak terlalu besar, dan titik-titik air mata seolah tak kuat lagi dibendung.

“Kamu kelihatan murung banget pagi ini, kenapa?” Rudi berujar, ditengah-tengah makannya. Sementara anak mereka yang masih duduk di taman kanak-kanak menoleh, matanya yang bundar memperhatikan wajah ibunya dengan pandangan menilai.

“Aku mau pulang,” Zara berujar, terdengar sendu. Ia menaruh selai pada rotinya dengan lesu, sementara mulai duduk di samping putrinya. “Tapi aku khawatir banget … aku khawatir …”

“Mau pulang? Ke mana? Ke kampung?” Rudi berujar santai, sembari menggigit roti selai cokelatnya. “Boleh, tinggal kamu bilang aja mau kapan.”

“Enggak, aku mau pulang, pulang ke rumah.” Zara berujar, setelah selesai mengunyah potongan rotinya.

Rudi hanya dapat mengangkat alisnya curiga, lantas mulai menanyakan maksud istrinya tersebut. Namun Zara tak menjawab, lantas ia segera beranjak, bersiap pergi mengantar putrinya.

Setelahnya, kata tersebut senantiasa menyelimuti benaknya. Ia sungguh tak fokus dalam pekerjaannya hari itu, pikirannya hanya tertuju pada satu tempat.

Lantaran pikirannya tak dapat dikompromi lagi, Rudi pun mohon izin pulang lebih cepat pada atasannya, segera melajukan mobilnya menuju tempat Zara mengajar. Jantungnya bertalu-talu cepat, sementara pikirnya diterjang kecemasan bertubi-tubi.

Tiba-tiba ponsel Nokia miliknya berdering nyaring, membuyarkan konsentrasinya menyetir. Lantas dengan gusar  ia segera menepi, lantas mengangkat panggilan tersebut.

“Kamu dimana?” Suara Zara terdengar dari balik telepon, seketika membuat kelegaan menyelimuti batinnya.

“Aku baru pulang dari kantor nih, emangnya kenapa?” Ia menjawab, kentara betul nada lega dalam suaranya.

“Kalau gitu kamu bisa tolong jemput Nurul gak? Aku kayaknya gak bisa jemput hari ini deh.” Ujarnya tiba-tiba, membuatnya seketika mengangkat alis.

“Oh oke deh. Kamu emangnya ada apa?” Tanyanya kemudian, penuh rasa penasaran. Tidak biasanya Zara memintanya untuk menjemput putri mereka. Namun, tak ada jawaban dari seberang ponsel, menandakan Zara yang telah menutup ponselnya.

Mungkin ia sedang ada urusan mendadak, pikirnya kemudian, sembari segera melaju menuju sekolah putrinya.

Namun, dugaannya tersebut segera dipatahkan ketika sebuah nomor menelponnya. Sebuah nomor yang mengobarkan kabar duka, laksana suara gendang yang menyayut hatinya. Sebuah nomor yang seketika membuat seluruh tubuhnya kaku tak bergerak, lantaran terlalu kaget menerimanya.

“Dimana istri saya sekarang?” Tanyanya kemudian pada polisi yang mengabarkan kecelakaan yang menimpa Zara tersebut, berselimutkan nada amarah dan kesedihan. Lantas polisi segera melontarkan jawabannya, membuat Rudi tergoda untuk segera ke sana dan menemui istrinya untuk terakhir kalinya. Namun sebuah telpon lagi-lagi membangunkannya, sebuah suara terakhir dari sang istri yang harus dipatuhinya. Membuatnya tersadar, bahwa disamping dirinya, akan ada seseorang yang jauh lebih terluka kehilangan Zara. Seseorang yang hanya bisa lima tahun memeluk orang yang melahirkannya ke dunia, sebelum takdir mengembalikannya ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Lantas tatkala kakinya berdiri di tempat penuh keceriaan tersebut, tempat tawa bergema dimana-mana, tanpa masalah orang dewasa, tanpa ternodai dengan kejamnya dunia, Rudi mematung tak dapat berbicara. Ia hanya dapat terkaku tatkala tubuh kecil memeluknya, berkata dengan ceria, “hai, papa, coba tebak tadi aku abis ngapain di sekolah?”

Lantas ia hanya dapat melingkarkan tangannya di punggung gadis kecil peninggalan terakhir istrinya, begitu ceria tanpa tahu nasib buruk yang telah menimpa ibunya. Tanpa tahu esok ia tak dapat berkata dengan ceria lagi, “selamat pagi, mama? Hari ini masak apa? mau Nurul bantuin gak?”

Tapi di dalam kesedihan itu, setidaknya satu hal yang ia miliki. Tubuh mungil tersebut harus ia pastikan tumbuh sebagaimana mestinya, hingga nanti Zara akan bangga jika bertemu dengannya kelak di alam sana.

***

Gadis bersuraikan hitam sebahu tersebut mendengarkan cerita pria di depannya dengan khitmat, hingga batu kesedihan pun ikut-ikutan menggencet hatinya.

“Aku yakin, beliau akan senang melihat hasil didikanmu.” Ujarnya kemudian, sembari menyika wajah yang berselimutkan titik-titik air mata. “Aku yakin ia akan tumbuh menjadi orang yang baik, sesuai didikanmu yang begitu hebat.”

“Ya, kuharap begitu.” Pria itu menarik napas, sembari menyeruput kembali segelas kopi yang sudah mulai mendingin. “Kuharap istriku ada di sini untuk menemaniku. Kuharap, istriku dapat melihat betapa menggemaskannya ia.”

“Aku yakin beliau akan senang dengan semua yang telah kau lakukan.” Ujar gadis itu, matanya menatap pria tersebut dengan tatapan sayu.

Pria itu kemudian menyaksikan jam dinding yang bertengger indah di sebelah kiri toko, yang kini telah menunjukan pukul dua belas siang. “Sepertinya waktuku bercerita sudah habis, ya? Sebentar lagi putriku akan pulang.”

Jarum-jarum tajam seketika menusuk dada gadis tersebut, sementara air matanya tak kuasa lagi dibendungnya. Ditatapnya pria yang telah berusia lanjut tersebut dengan tatapan nanar, hatinya begitu sakit tatkala mengetahui usia tua yang sedikit demi sedikit telah merengut ingatan pahlawan yang sedari awal merupakan cahayanya, menuntunnya hingga kini memperoleh kesuksesan. Nurul menyeka air matanya dengan tangannya, lantas dengan lirih ia kemudian berkata,  “aku yakin mama akan sangat bangga padamu, papa.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serpih Mimpi yang Lebih Berarti